Download software terlengkapAla Tua Becik Tua Sebenar benarnya

Info cara terbaru solusi terlengkap dan terbaikAla tua becik tua sebenar benarnya semua tergantung bagaimana orang tua mendidik anaknya dari awal. Pitutur piwulang wong jowo ala tua becik tua tsb memang sangat baik jika benar-benar dipahami dengan naluri, perasaan, pikiran dan diimplementasikan dalam prilaku. Karena jaman sekarang yang namanya ala becik itu samar-samat, sukar dibedakan, jika tidak dilandasi pengetahuan akhlak, agama, akidah yang murni menjadi kiblat kebenaran.


Download aplikasi terbaruSekarang yang terbaru ada : 98 artikel Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Bisa dilihat menggunakan smartphone android, PC-Desktop, Komputer maupun Laptop. Pembaruan sub versi update revisi ke : 116361.


Pitutur wong jowo : Ala tua becik tua & cara meluruskannya.

Ala tua becik tua & cara meluruskannya -

Sebelum membahas pitutur becik wong jowo perihal ala tua becik tua, maka ada beberapa pengetahuan yang bisa dijadikan pondasi pemahaman hal yang sebenarnya lebih kompleks dari yang diperkirakan, supaya tidak ambigu. Karena pitutur piwulang wong jowo kadang sedikit kata tapi maknanya dalam & sangat luas, bagi mereka yang benar-benar memikirkannya.

Definisi & pengertian orang tua yang sebenarnya adalah orang yang bisa menempatkan diri, baik pikiran, perasaan, tutur kata, prilakunya, identik dengan pinisepuh yang dihidup pada zaman dimana moral, akhlak, akidah belum terkontaminasi oleh perkembangan zaman modern. Siapapun orangnya berdasarkan umur : entah masih muda, sudah tua, maupun dewasa, masih kecil, sudah besar, kalau sudah bisa menempatkan dirinya dalam posisi seperti itu layak disebut orang tua.

Definisi & pengertian pinisepuh adalah orang yang dahulu hidup pada zaman dimana moral masih murni belum terkontaminasi abad modern. Akhlak, akidah, moral, tutur kata, prilaku, benar-benar hanya berdasarkan ajaran syariat & hakikat agama yang sangat kuat.

Apa sebenarnya maksud pitutur wong jawa tentang ala tua becik tua? kurang lebih maksudnya : anak mau baik / buruk akhlak maupun prilakunya, sebenarnya kalau ditarik satu kesimpulan tunggal ujung-ujungnya karena wong tua pula.

Berdasarkan paradigma ala tua becik tua maka ada beberapa kronologi & analogi yang bisa menggambarkan :

  • Realita yang benar : Anak jaman sekarang kadang kurang punya sopan santun, subo sito / uanggah ungguh sama wong tua.

Realita sebenar-benarnya : tidak semua anak seperti itu, kadang orang tua kurang menyadari pada kondisi-kondisi tertentu sering bertutur kata yang menyinggung anaknya, tapi anaknya diam & tidak mau menasehati orang tuanya karena terbentur tata krama kepada wong tua.

  • Kenyataan yang benar : Semua orang tua ingin anaknya sekolah yang pintar, sukses, berhasil, kaya raya, & punya jabatan / status sosial yang tinggi.

Kenyataan yang sebenar-benarnya : Orang tua kadang tidak menyadari akan kemampuan anaknya, tidak menyadari kalau jalur hidup kesuksesan orang tidak hanya diukur dari sisi materi saja, kurang menyadari jika keberhasilan orang tidak mesti menjadi pegawai / pejabat tinggi. wong tua yang terus menerus memiliki kecenderungan tsb masuk ciri orang tua materialistis & akhirnya membentuk akhlak untuk mengejar materi dengan berbagai cara terhadap pola pikir anaknya tentang uang sebagai kiblat ukuran keberhasilan.

  • Hal yang realistis : Semua orang tua akan sangat senang & bangga, jika anaknya sukses, berhasil & berkecukupan materi.

Hal yang sebenar-benarnya : Orang tua yang terlalu membanggakan anaknya yang berhasil, apalagi memiliki ekspektasi terlalu berlebihan karena anaknya sudah berkecukupan materi finansial, akan berdampak tidak baik dalam jangka panjang. Karena anak tersebut nanti bisa memperbudak orang tuanya melalui materinya, istilah wong jawa : Ngethiplakna wong tua karo cara alus, tidak dirasa tapi nyata. Orang tua kalau sudah seperti ini akan sulit keluar dari lingkaran anaknya tanpa disadarinya sudah merusak akidah & membelokan akhlak secara pelan-pelan menjadi materialistis hingga akhirnya tidak bisa menempatkan rasa adil serta tanggung jawab, terutama pada anaknya yang sudah berkeluarga.

Solusi supaya paham ala tua becik tua diharapkan tidak hadir dalam lingkungan keluarga :

  • Orang tua sebaiknya mengedepankan akhlak & akidah menurut ajaran agama sebagai kiblat kebenaran. Sehingga tidak berekespektasi terlalu tinggi jika anaknya berkecukupan secara finansial. Misalnya : meskipun anaknya sering kasih uang banyak pada orang tuanya, kalau memang anaknya salah, harus tetap disiplin & obyektif meluruskan anaknya, sehingga tidak salah menempatkan rasa rikuh pikewuh.

  • Orang tua memang harus mengajarkan anaknya tentang uang & materi karena menopang hidup, tapi setelah akidah & akhlaknya lurus terbentuk sesuai ajaran agama. Bukan memberikan doktrin halus terus-menerus hanya mengejar pekerjaan, karier, jabatan & kekayaan finansial semata. Apalagi menjadikan materi duniawi sebagai kiblat.

  • Untuk yang menjadi anak, jika suatu saat mempunyai argument, masukan, kalau memang berdasarkan akidah agama yang benar, maka jangan ragu menasehati orang tua, yang penting sopan santun & unggah-ungguh ke orang tua diusahakan selalu dijaga. Supaya kedepan tidak terjadi paham salah bukan salah paham lagi.

  • Bagi anak yang memiliki kelebihan dalam materi finansial yang berkecukupan, maka jangan terlalu sering menyodorkan hal-hal yang bersifat materi / uang, karena meskipun orang tua bangga dengan anak yang berhasil secara finansial, kalau terus menerus disodori hal-hal seperti tsb, sebenarnya hanya akan menjerumuskan pelan-pelan orang tua berpaham materialistis & itu bisa menggeser nilai akidah, sebab uang menjadi kiblat.

  • Untuk anak yang memiliki kelebihan ilmu pengetahuan akidah & agama, tapi mungkin belum berkecukupan secara finansial, maka harus tetap berusaha meluruskan akidah orang tua kalau memang diperlukan & seperlunya. Sebab jaman sekarang memang akidah itu sangat krusial, akhlak yang baik maupun sebaliknya bisa samar-samar jika tidak dilandasai dengan ilmu akidah & agama yang kongkrit.

Siapapun nanti akan menjadi orang tua, jangan sampai ala tua becik tua menyelimuti lingkungan keluarga anda, mengapa?

  • Efeknya jangka panjang, sebab seseorang akan sulit membedakan antara : hak, kewajiban, tanggung jawab, kebutuhan & tujuan hidup yang sebenar-benarnya.

  • Situasi yang rumit & kompleks jika tidak segera diluruskan maka akan membuat seseorang : merasa sudah benar tapi belum sebenar-benarnya benar, merasa sudah sangat baik tapi belum sebenar-benarnya sejati, merasa bersukur dengan banyak kebaikan dunia tapi belum paham benar tujuan hidup yang hakiki apalagi hingga berfaham materialis sebagai kiblat.

Semoga referensi singkat & sederhana bisa menjadi inspirasi positif, aplikatif serta bermanfaat dalam jangka panjang. Terimakasih atas kunjungan & kepercayaannya, selamat beraktifitas.