
1. Kebutuhan akan UANG.
Tidak harus terlalu kaya, tidak mesti harus banyak uang terus, uang itu relatif sebenarnya. Yang penting adalah bisa memiliki persepsi yang sama soal uang, antara suami istri. Kalau persepsi soal kebutuhan ini belum sama, sudah pasti sering bermasalah. Sering tersandung ditengah jalan, sebenarnya bukan karena kurang uang. Persepsinya soal uang belum bisa sama. Uang seberapapun bisa cukup sebenarnya, kalau persepsi gaya hidupnya sama. Contoh Analoginya : Uang 100 ribu misalnya. Suami menganggap 100 ribu itu cukup jika berhemat. Tapi istri beranggapan 100 ribu itu tidaklah cukup. Persepsi yang bersebrangan soal uang akan memicu masalah. Sebab yang dibutuhkan, kemampuan adaptasi berapapun uang yang dimiliki agar sesuai kebutuhan. Bukan memaksakan kebutuhan gaya hidup diluar kemampuan keuangan. Kalau persepsi soal uang ini bisa dibangun secara identik maka pasti selamat. Menikah itu bukan saling menuntut, tapi saling beradaptasi khususnya soal uang, agar tidak memicu masalah yang tidak perlu sebenarnya. Analogi contoh itu bisa diterapkan ke semua bidang selama menikah. Pandai-padailah menyerap intisarinya.
2. Kebutuhan urusan RANJANG.
Tidak bisa dipungkiri juga, bukan barang tabu juga, kalau kebahagiaan setelah menikah itu kalau kebutuhan ranjang juga selalu terpenuhi. Sebab kedekatan suami istri bisa dibangun, dipupuk, terus menerus, ketika kehidupan di ranjang selalu harmoni. Suami istri harus punya kesepakatan, mau pergi ke ranjang berdua itu berapa kali dalam seminggu atau mungkin berapa hari sekali, itu harus benar-benar jadi kesepakatan yang ahrus dipenuhi, jika mau lancar tidak bermasalah ditengah perjalanan. Misalnya : suami pulang kerja seminggu sekali, istri sering dirumah orang tuanya. Itu garansi 100% pasti pernikahannya bermasalah. Mau ditutupi seperti apapun akan terlihat, mau dilindungi seperti apapun sama orang tuanya, permasalah itu pasti muncul terus, sumber masalahnya soal ranjang, ini bisa memicu kebutuhan lain yang harusnya tidak muncul jadi muncul bersamaan dengan permasalahan yang timbul, tanpa diinginkan sekalipun. Kalau sudah bersebrangan dalam kondisi ini tinggal seberapa kuat mentalnya, atau tetap berjalan seolah-olah harmoni padahal penikahannya mulus penuh kemunafikan. Di tahun 2026 yang serba gemerlap teknologi duniawi, hal semacam itu banyak terjadi, baik pada usia menikah tua maupun muda.
3. Kebutuhan untuk ANAK.
Anak itu punya kebutuhan dasar banyak sekali, baik kebutuhan lahir dan batin. Kebutuhan lahir seperti : sandang, pangan, papan, sekolah, jajan, jalan-jalan, dll. Kebutuhan batin seperti : cara suami istri memperlakukan anaknya. Perlakuan yang tidak sama antara suami istri juga bisa bermasalah. Yang namanya anak itu sudah pasti : rewel, menjengkelkan, banyak maunya, suka mengganggu, marah jika keinginannya tidak dipenuhi. Dalam kondisi seperti ini, suami dan istri pasti punya perlakuan yang berbeda. Perlakukan yang berbeda jika muncul terus-menerus juga memicu masalah yang tidak semestinya muncul. Karena orang tua manapun sangat bisa momong anaknya ketika anaknya menyenangkan, tapi ketika anaknya rewel menjengkelkan tidak semua orang tua bisa sabar menghadapinya bahkan cenderung keras bisa saja main fisik. Orang yang lulus setelah menikah adalah orang yang bisa memegang anaknya sejak usia 0 sampai 7 tahun, masa dimana anak lagi lucu sekaligus sering menjengkelkan. Jika ada suami istri yang tidak kuat memegang anaknya secara mandiri sejak umur tersebut, misal sering dititipkan ke utinya, pembantunya, maka 100% bisa dipastikan masalah akan ditagih ke orang tuanya saat anaknya sudah dewasa. Urusan anak tidak bisa dihindari sejak dia kecil, sesibuk apapun, kalau memang niat ya bisa. Tapi kalau ego, maunya enak, suka menghidar dan dititip-titipkan maka jangan heran ketika anak itu dewasa akan bermasalah dan menjadi pemicu apa saja bisa muncul. Mau sebaik apapun anda mengelolanya, dengan uang berapapun. Sebab yang menagih semesta bukan manusia. Maka dari itu jangan sembarangan seenaknya sendiri jika hidup setelah menikah.
Makannya dari awal kalau mau menikah, yang dibutuhkan itu orang yang siap nikah bukan orang yang hanya ingin nikah. Jika salah satu saja dari 3 kebutuhan paling fundamental diatas tidak dipenuhi, maka jamin 100% pernikahannya akan sering bermasalah ditengah jalan. Mau ditutup-tutupi seperti apapun, mau di backing orang tua sekalipun, sudah kaya sekalipun, permasalahan itu akan muncul dan terlihat, baik sadar maupun tidak disadari. Semoga tahun 2026 bisa membawa perubahan besar dalam hidup anda, dan di bulan febuari semakin mendapat pencerahan kedepannya. Karena semua kebutuhan itu tidak bisa dihindari.