Motivasi orang tua yang salah pada anaknya yang jadi pegawai & tidak memperhatikan dinamika hidup.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Orang tua suka memberikan motivasi pada anaknya untuk sukses & berhasil itu betul, tapi jika caranya salah maka hasilnya justru bersebrangan. Sekarang ada 106 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Motivasi orang tua yang salah pada anaknya.

Setiap orang tua maupun mertua ingin anaknya suskes, tapi kadang cara memotivasinya salah sehingga hasilnya sebaliknya.

  • Apa yang diinginkan orang tua baik orang tua sendiri maupun mertua sebenarnya hanya ingin melihat anaknya berhasil, sukses, berkecukupan, dunia dan akhirat. Meskipun tidak dipungkiri yang paling banyak diinginkan hanya kesuksesan materi dunia saja baik terlihat langsung maupun secara halus.

  • Akibat keinginan itu, orang tua kadang salah dalam mendidik, memotivasi anak-anaknya TANPA TERASA justru akan merusak mental, pikiran & perasaannya, baik pada anak sendiri maupun menantunya.

Berikut ini hal yang sering dilakukan orang tua tanpa dirasa dan disadari justru merusak banyak hal kedepannya :

  • 1. Membandingkan harta anak yang satu dengan yang lainnya.

Contoh : Tuh liat, saudaramu sudah jadi pegawai PNS, hidupnya enak & berkecukupan, sudah punya ini & itu, kamu kalau ada lowongan kerja, mbok cepat-cepat sana mendaftar, jadi pegawai negri itu terjamin.

  • 2. Menghitung harta anak yang satu dengan yang lainnya.

Contoh : Lihatlah kakakmu / adikmu sudah pada punya rumah, mobil, penghasilan besar, coba kamu kapan bisa seperti mereka?

  • 3. Lebih condong pada anak yang banyak uangnya.

Contoh : Suka menceritakan anaknya yang sukses menjadi pegawai, menjadi pejabat, tanpa menyadari kalau jaman begitu dinamis, mungkin suatu waktu orang tua sangat bangga pada anaknya yang jadi pegawai perusahaan A, tapi dilain hari bisa saja justru beban moral yang didapat akibat anaknya bekerja di perusahaan A akibat didera masalah berat misalnya.

  • 4. Mengukur perhatian dan kasih sayang anak berdasarkan banyaknya uang yang diberikan.

Contoh : Tuh lihat, si A sangat sayang orang tua, apa saja dia belikan, & sering kasih uang pada orang tua, sedangkan kamu tidak pernah memberi apa-apa, kalau cuma mengurus rumah itu si pekerjaan PRT saja.

  • 5. Menginginkan anaknya seragam.

Contoh : Semua saudaramu yang menjadi pegawai BUMN dan PNS, hidupnya enak & bercecukupan, kamu harus berusaha lebih keras agar jadi pegawai.

Tidak pernah menyadari, memahami, mengakui apa yang sebenar-benarnya sedang diusahakan anaknya yang dianggap belum punya apa-apa.

  • 6. Tidak mau menyadari kesalahan malah justru mencari-cari alasan lain untuk menutupi kesalahannya.

Contoh : Ketika orang tua ketahuan salahnya, tidak mau mengakui, justri mencari celah lain untuk pembenarannya sendiri.

Misal ANALOGINYA :

  • Orang Tua : 2 + 2 itu sama dengan 5, bukan 4..

  • Anak : Bukan, 2 + 2 = 4 bu / pak..

  • Orang Tua : Ngeyel dengan pembenarannya sendiri..

  • Orang tua justru berkata : kalau kamu tidak dibiayai & disekolahkan orang tua maka kamu tidak akan pintar berhitung matematika.

ITU ANALOGI yang bisa DITERAPKAN dalam BANYAK KASUS, sehari-hari.

  • 7. Memiliki kesadaran agama & spiritual yang rendah.

Contoh : Agama mengajarkan kewajiban utama anak perempuan sudah menikah harus bisa patuh, mengikuti suaminya & bisa menyelsaikan masalahnya sendiri.

Kenyataannya terbalik : Orang tua terutama ibu merasa berhak mengatur suami jika istri memiliki penghasilan lebih besar, tidak wajib patuh & mengikuti suami. Inilah ciri orang tua materialistis yang langsung maupun halus tampaknya.

  • 8. Prinsip hidup yang lemah, pengetahuan yang rendah, sehingga mudah dihasut dan dipengaruhi pihak ketiga dari luar.

Contoh : Akibat doktrin materialisme yang sudah menjadi kiblat orang tua, maka dia mudah dihasut & dipengaruhi pihak ketiga untuk menjelekan / menuding anaknya yang masih merintis, bukannya memberikan motivasi & membekali dengan mental yang tepat, akhirnya hanya menjadi perusak tanpa terasa.

  • 9. Suka mendikte & ikut campur urusan anaknya terutama yang sudah menikah.

Contoh : Karena merasa umurnya sudah tua, merasa banyak pengalaman, maka suka memberi nasehat yang dianggapnya benar, padalah dia tidak menyadari bahwa dewasa tidak diukur dari umur dan banyaknya pengalaman hidup, tapi dari kualitas pikiran dan kualitas pengalamannya.

  • 10. Suka menjelek-jelekan anaknya yang masih merintis dan dirasa belum berhasil.

Contoh : Ketika seorang anak dengan pengetahuan dan pengalamannya memberikan masukan yang sebenarnya benar, TETAP tidak diakui, hanya karena anaknya belum memiliki uang banyak, padahal dalam SANUBARINYA paling dalam sudah menyadari perkataan anaknya yang tua pikiran & kedewasaannya itu benar.

Efek negatif jika cara diatas terus menerus digunakan orang tua maupun mertua :

  • 1. Anak justru akan menjadi pembrontak.

  • 2. Timbul banyak perselisihan yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan akibat saling salah paham.

  • 3. Orang tua bukan lagi menjadi figur akhlak & akidah, tapi mendekati sifat dajaliah tanpa terasa.

  • 4. Merusak banyak hubungan persaudaraan, akibat cerita kata-kata denga pembenaran sendiri tanpa dasar yang jelas, apalagi tidak sesuai anjuran agama.

Sebenarnya solusi orang tua yang ingin anaknya maupun menantunya sukses & berhasil adalah :

  • Memberikan motivasi & format mental yang tepat, dengan cara mendukung & mensupport apa saja yang menjadi bakat & keahlian anak-anaknya secara bijak dengan kata yang tepat tanpa mengganggu pikiran & perasaannya. Bukan dengan cara diatas, sehingga anaknya akan menemukan sendiri cara terbaik untuk meraih kesuksesan & keberhasilan.

Solusi yang singkat, padat & bermakna namun tidak pernah disadari para orang tua, akibat tertutupnya hati & pikirannya oleh doktrin materialisme, mencintai materi duniawi secara berlebihan itu faktanya.