Download terlengkap cara terbaikFaktor penyebab peserta didik kesulitan belajar di sekolah selain guru

Solusi cara terbaik dan terlengkap5 Solusi agar peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar di sekolah karena komponen guru, wali murid, dan komponen lainnya yang lebih tinggi saling terkait menghasilkan landasan belajar yang kuat dan fokus yang jelas. Sehingga apapun potensi dan bakat peserta didik bisa dibangkitkan.


Download aplikasi terbaruLihatlah menggunakan komputer, pc-desktop, laptop, maupun smartphone android. Saat ini ada 129 artikel Kategori Psikotes. Pemutakhiran versi update revisi ke : 7157.


5 FAKTOR UTAMA AGAR PESERTA DIDIK TIDAK MENGALAMI KESULITAN BELAJAR, BAHKAN BISAMELEDAKAN POTENSI & KREATIVITAS ANAK YANG TERPENDAM.

Kesulitan belajar pada peserta didik tidak selalu disebabkan oleh faktor teknis, juga faktor non teknis tapi jarang diperhatikan sejak awal.


1. Atitude karakter guru yg mudah diterima peserta didik sekaligus wali murid.

  • Sudah banyak artikel maupun kajian yg membahas kesulitan belajar peserta didik yg dibahas selalu faktor teknis. Padahal faktor non teknis penyebab peserta didik mengalami kesulitan belajar juga sangat krusial tapi jarang diperhatikan. bila guru bisa membuat peserta didik betah & mau kembali ke sekolah esok hari & seterusnya tanpa diminta & diberitahu berulang kali, itulah guru yg berhasil. Guru yg bisa membaur secara alami baik dari sisi lahir & batin peserta didik, akan sangat membantu peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. bila peserta didik senang, nyaman, datang ke sekolah setiap hari tanpa diminta guru yg mengajarnya pasti wali murid juga senang karena anaknya betah ke sekolah. Nah ini faktor sangat penting yg harus diperhatikan diluar faktor teknis. Apakah karakter guru seperti itu bisa dibentuk? bisa, tapi hasilnya tetap berbeda antara karakter guru yg alami memang mudah diterima peserta didik dg guru yg memang dibentuk lewat diklat. Disinilah peran asesmen guru yg bermutu sangat diperlukan sejak awal rekruitasi guru baru, demi kemajuan belajar peserta didik khususnya & kemajuan bangsa secara luas. Karena SDM yg berkualitas produktif embrio dasarnya ada di sekolah paling dasar.

2. Kombinasi interaksi sosial dalam proses kegiatan belajar mengajar.

  • Belajar adalah proses yg komprehensif, awal belajar adalah awal yg sulit. Belajar tidak hanya sains & soal teknis, tapi peserta didik harus distimulus dg interaksi sosial. Mulai belajar inetraksi yg baik sesama teman, dg guru, maupun dg wali murid lainnya. Analoginya : peserta didik yg pintar sekali matematika nantinya bisa kalah bersaing dg anak yg biasa saja tapi kreativitasnya luar biasa. Sehinggu tujuan utama pendidikan untuk menghasilkan peserta didik yg prouktif & kompetens bisa tercapai, karena guru yg bisa membangkitkan potensi & bakat peserta didik apapun potensinya. Untuk bisa mencapai tujuan ini, tentu peserta didik harus diberi pelajaran lebih komprehensif baik yg sifatnya teknis maupun interaksi sosial diatas, sehingga kesulitan belajar bisa ditemukan solusinya tidak hanya didalam kelas pelajaran tertentu saja. Guru yg dinamis, melihat situasi ini pasti secara sense bisa membangkitkan bakat & potensi peserta didik apapun bekal yg dimilikinya.

3. Suasana belajar yang mendukung KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

  • Suasana belajar yang tidak nyaman memang membuat peserta didik kesulitan belajar akibat saat KBM berlangsung rasanya tidak nyaman. Maka dari itu memang perlu sekali ruangan kelas itu dihias, tapi bukan sekedar hiasan. Artinya ruangan kelas diberi aksesoris hiasan yang kalau cerah & bisa membangkitkan aura positif peserta didik. Bisa diselingi gambar, tulisan yang isisnya memotivasi peserta didik agar produktif & kreatif, bukan memberikan selogan-selogan yang berisi doktrik agar peserta didik nanti menjadi sesuatu seperti setelah ada. Tapi dg suasana belajar yang dirancang khusus tersebut, peserta didik secara natural selain nyaman belajar, juga bisa membangkitkan potensi bakat kreativitas yang terpendam. Sebab secara itu maka peserta didik nanti tidak menjadi produk doktrin lama, tapi menjadi SDM baru yang bisa menciptakan peluang kerja baru, sehingga secara global bisa memperlancar pembangunan SDM secara nasional baik secara sains maupun ekonomi.
4. Lingkungan belajar yang kondusif & landasan belajar yang kuat.
  • Lingkungan belajar yang bagus memang sangat membantu peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar berkepanjangan. Agar peserta didik memiliki landasan belajar yang kuat maka dari awal harus dibentuk dg aturan yang masuk akal tapi tidak mengekang maupun membatasi bahkan membendung setiap potensi & bakat peserta didik. Aplikasi kongkritnya, peserta didik kalau di sekolah fokus utamanya belajar, bukan terlalu sering melihat temannya berselisih, saling ejek, bahkan berantem. Begitu juga guru, jika di sekolah fokusnya ya bagaimana caranya memajukan sekolah agar peserta didiknya punya prestasi maupun bisa menang lomba tingkat tertentu, memacu potensi bakat peserta didik agar nanti punya daya saing terkait kreativitas & produktivitasnya. Begitu juga wali murid, agar selalu mendukung KBM diekolah, memberi contoh dengan tidak sering kongkow di sekolah ketika jemput anaknya, tapi selalu disiplin & tepat waktu. Lingkungan belajar yang kondusif seperti itu bisa dibentuk sejak dini dari awal tahun ajaran baru, dengan sosialisasi akurat dari guru ke peserta didik, dari kepala sekolah ke guru pengajarnya, & dari sekolah ke wali murid lewat paguyuban komite sekolah. Lingkungan belajar dengan aturan beberapa komponen tersebut harus dijadikan pakem untuk semuanya, sehingga peserta didik nanti belajarnya lebih kondusif dengan landasan belajar yang kuat, sebab fokus di satu titik tidak bercabang-cabang pada hal yang tidak ada hubungannya dengan progress potensi & bakat peserta didik.
5. Perancangan pengajaran & penyampaian materi pelajaran akurat.
  • Belajar di sekolah memang sudah ada kurikulum baku yang mengaturnya, agar mempermudah guru dalam menyampaikan pelajaran ke peserta didik sesuai platform setelah diberikan oleh pusat. Tapi guru seharusnya bisa lebih kreatif memberikan pelajaran lebih dinamis pada peserta didik, meskipun dengan kurikulum setelah ditetapkan. Guru harus bisa menyediakan media belajar pendukung agar peserta didik tidak kesulitan belajar akibat cara pengajaran yang monoton bahkan malah sulit dipahami peserta didik. Kendala yang jarang diperhatikan & menjadi faktor penting biasanya adalah ada guru yang belum begitu paham kurikulum baru setelah ditetapkan pusat, apa tujuan utama kurikulumnya, bagaiman sistematika kurikulumnya, bagaimana cara kerja benar sesuai kurikulum baru tersebut, bagaimana meraih goal dari tujuan kurikulumnya. jika guru belum begitu baham kurikulum baru secara substansial, maka bagaimana guru bisa kreatif dalam memberikan pelajaran pada peserta didiknya agar tidak mengalami kesulitan belajar. Peran asesor guru disini penting sekali untuk melakukan evaluasi periodik terhadap guru baik itu pns, p3k, honorer & lainnya terkait kualitas & aplikasinya dalam menerapkan kurikulum baru sesuai substansi pokok tujuan pendidikan. Hal itu dilakukan demia kemajuan peserta didik pada khususnya, SDM pada umumnya, & demi kemajuan anak bangsa karena core bisnis dunia kerja sekarang sudah semakin ketat & kompetitif. Tentu perancangan pengajaran & penyampaian materinya harus benar-benar substansial menggunakan konsep yang produktif.

videofx_1

video_fx_title