Tanggung jawab setelah menjadi orang tua memuat konsekuensi yang tinggi.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Jangan seolah olah sudah jadi orang tua namun memendam niat yang tidak baik dalam sanubarinya, terutama mengkamuflasekan tugas & kewajibannya sebagai ibu rumah tangga kelak setelah menikah. Sekarang ada 100 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Tanggung jawab setelah menjadi orang tua.

Sekolah . Kuliah . Bekerja . Menikah . Manfaat . Resiko . Ciri

Konsekuensi tanggung jawab terhadap apapun yang sudah menjadi pilihan, apalagi jika sudah menikah :

Konsekuen & Tanggung Jawab Atas Pilihan! -

Kapanpun bahkan ini setiap orang selalu mempunyai pilihan dalam hidupnya itu pasti. Namun pada kenyataannya tak semua orang bisa konsekuen & tanggung jawab dg apa yg sudah menjadi pilihannya. Ciri khas orang paling banyak terjadi adalah mencari alasan & alibi untuk menghindari apa yg menjadi konsekuensi & tanggung jawabnya. & ini terjadi pada setiap aspek & lapisan kehidupan. Baik yg dalam masa pilihan : sekolah, saat kuliah, mulai bekerja & akhirnya menikah. Manfaat utama bila orang konsekuensi & tanggung jawab setelah bertambah dewasa atas apa yg menjadi pilihannya adalah tak akan menimbulkan resiko banyak masalah baik kecil maupun besar, sebab kesadarannya ini bisa berguna mendidik langsung pada dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Simak ini dg baik & tanam dalam sanubari, sehingga ketika mengambil pilihan dalam hidup tak menganggu & merugikan orang lain, bahkan mendidik secara langsung.

Orang lain memiliki kesibukannya sendiri sedangkan pilihan merupakan konsekuensi tanggung jawab yang harus dijalankan sendiri :

Pilihan saat sekolah :

  • Bagi yg sekarang dalam masa sekolah maka konsekuensi & tanggung jawab atas pilihan adalah belajar yg tekun, raih prestasi & ranking yg bagus 10 besar minimal, & rangking 1 maksimal. & tunjukan pada orang tua bila layak dibiayai sekolah sebab mampu berprestasi tinggi disekolah sesuai bakat & keahlian. Bukan mencari banyak alasan sebab malas belajar & saat prestasi menurun. Jangan suka bermain-main & dolan-dolan dg kanca batir, pikirkan orang tua sudah susah payah mencari uang untuk biaya sekolah.

Pilihan saat kuliah :

  • Saat memilih kuliah, pastinya sudah menginjak usia dewasa. Konsekuensi & tanggung jawab sebenarnya sudah jauh lebih berat daripada sekedar sekolah, harus memikirkan 4 sampai 5 tahun kedepannya setelah lulus kuliah mau punya masa depan seperti apa. Kuliah tak untuk berhura-hura, pacaran, kongko-kongko & nongkrong dg teman-teman. sebab orang tua yg membiayai sedang menunggu hasil kuliah tentu dg prestasi akademik yg bagus & berprospek untuk cari kerja / membangun usaha kedepannya. Kasihan kan orang tua yg sudah susah payah banting tulang cari uang, bila kuliah hanya untuk bersenang-senang.

  • Mengapa anak desa, yg makannya singkong & thiwul kadang bisa lebih pintar & bahkan genius? sebab anak seperti ini memiliki kesadaran nurani & spirit yng tinggi, menyadari apabila cari uang itu tak gampang, harus bertetesan keringat & otak bisa sampai berasap sebab saking panasnya, dg kesadaran tinggi nurani inilah yng pada akhirnya membuka gerbang logic (and or not nand nor) dalam otaknya secara alami tanpa dipaksa & disuruh-suruh.

Bekerja memang harus, tapi jangan menjadikan kesibukan kerja sebagai dalih yang seolah-olah baik padahal mengesampingkan konsekuensi tanggung jawab setelah menjadi orang tua :

Konsekuensi & tanggung jawab Pilihan saat bekerja :

  • Mencari & mendapatkan pekerjaan ideal sesuai dng keinginan itu tak gampang. Jadi apabila sudah terdesak & melag butuh uang dari hasil bekerja apa saja diluar idealisme ya jalankan saja tanpa menggerutu & menyalahkan orang lain. Kecuali apabila tergolong orang pemilik skill & keahlian khusus yng tinggi, mungkin saja bisa pilih-pilih seusai bakat & bidang.

  • Memahami pengertian bekerja & jangan menjadikan tempat kerja sebagai rumah. Lembur menjadi alasan tak pulang kantor, padahal pekerjaannya apabila diakui hanya sedikit (Gengsi). Waktunya kerja ya kerja, waktunya pulang ya pulang tanpa banyak alasan, apalagi kalau sudah berkeluarga, harus menanggalkan kepentingan & ego sendiri untuk bersenang-senang, apalagi kalau sudah punya momongan.

  • Bekerja dng wajar sesuai dng bidang & jenjang kerja, tanpa memolesnya berlebihan seolah-olah paling berperan dibidangnya padahal tak demikian.

  • Memahami & mengenal betul struktur oraganisasi perusahaan yng dinaunginya, & memahami tugasnya yng sebenar-benarnya, sehingga tahu cara memberikan benefit & keuntungan bagi perusahaan yng sudah mempekerjakannya, bukan hanya menuntut gaji tinggi tapi tak ada kontribusinya secara teknis untuk membesarkan perusahaan tempatnya bekerja.

Tanggung jawab & konsekuensi Pilihan saat menikah & berkeluarga :

  • Jangan suka membebankan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab setelah berkeluarga kepada orang lain, kepada lainnya / orang tuanya. Pembantu rumah tangga sekalipun memiliki tugasnya sendiri, tapi kalau sudah apa yang seharusnya menjadi tanggungan sebagai orang tua, seharusnya tetap dijalankan sendiri tanpa banyak alasan ini & itu.

  • Berkeluarga & menjadi orang tua itu : repot, capek, banyak pikiran & tenaga yng terkuras, TAPI itu sudah tanggung jawab & konsekuensi pilihan setelah menikah, jalankan saja sebab itu sudah konsekuensinya. Jangan beranggapan Akad Nikah itu ucapan biasa, tapi akad nikah memuat tanggung jawab besar & konsekuensi tanpa beralasan ini & itu.

  • Kalau kebutuhan apapun, selesaikan sendiri. Tanpa harus merepotkan orang lain, lainnya, orang tuanya, bahkan memojokan orang lain supaya mau terus membantu apa yang seharusnya bukan tanggung jawab & konsekuensinya.

  • Siapapun & apapun seperti apapun karakter pasangan setelah menikah, itu adalah pilihan sendiri, jalankan saja sesuai akad nikah bahkan jangan sampai mencari-cari yng lainnya, inipun tanggung jawab besar & konsekuensi tinggi yng kadan tak dipahami jauh-jauh hari sebelum menikah.

  • Apapun pekerjaan ygn didapat setelah menikah, berapapun banyaknya uang ygn dihasilkan dari penghasilan / gaji, maka anak adalah tujuan utamanya, baik istri maupun suami. Kalau uangnya lebih, maka lebih baik ditabung untuk masa depan anak, daripada dipakai untuk menyuap dalam tanda kutip kepada maupun orang tuanya, supaya mau direpoti terus mengurus anaknya, & merasa tak enak karena sering disuap dalam tanda kutip. Padahal posisi seperti ini adalah rikuh pekewuh ygn tak pada ranah & kategorinya. Adakah orang seperti itu setelah berkeluarga & istilahnya meskipun mapan secara finansial? jawabannya ada : hanya saja nuraninya mau mengakui / tdk, & ini membutuhkan analisa sangat lembut, serta kesadaran penuh kesungguhan dari orang ygn bersangkutan.

Konsekunsi tanggung jawab yang dijalankan sepenuh hati & penuh kesungguhan akan bermanfaat universal :

Manfaat utama menjalankan konsekuensi & tanggung jawab pilihan :

  • Memahami makna kedewasaan ygn sesungguhnya & terandalkan karena tdk akan menimbulkan banyak masalah baik ygn diduga maupun tanpa terduga.

  • Hidup berjalan wajar & alami sesuai dng porsi & tanggung jawab masing-masing paham dng konsekuensi pilihannya sendiri tanpa menyalahkan orang lain.

  • tdk menimbulkan banyak salah paham ygn berujung pada distorsi & disharmonies.

  • Hidup selaras & seimbang, baik dng keluarga, saudara, teman, kerabat maupun dgn tangga teparo. Tanpa menimbulkan sesuatu ygnn ambigu & kesalahpahaman tdk pada tempatnya.

  • Memiliki hubungan silaturahmi ygnn harmoni & bertahan lama dgn siapapun juga.

  • Lembah manah & punya kesadaran tinggi akan konsekuensi & tanggung jawabnya, bahkan saat banyak keadaan ygnn bertentangan dgn kehendak & keinginananya, punya kesabaran tinggi & penug pemecahan ygnn tdk merugikan siapapun disekitarnya.

  • Rasa konsekuensi & tanggung jawab setelah bertambah dewasa akan terus tumbuh & berkembang, tanpa harus disuruh-suruh, tanpa harus diberitahu terus menerus.

Efek & resiko ygnn ditimbulkan kalau menghindari dari konsekuensi & tanggung jawab pilihan :

  • Hanya menimbulkan banyak masalah baru, baik besar, kecil maupun ygnn terduga & tdk diduga.

  • Hidup berjalan dgn penuh tekanan, ada-ada saja masalah ygnn timbul, mengakibatkan hubungan ygnn disharmonies bahkan dgn pasangan sendiri setelah menikah misalnya.

  • Sering menimbulkan salah paham ygnn tdk pada tempatnya, menimbulkan crash ygnn tdk semestinya, terlampau distorsi & disharmonies.

  • Hidup menjadi tdk selaras karena terlalu banyak hal ygnn ambigu karena suka memanipulasi keadaan ygnn sebenarnya sudah menjadi konsekuensi pilihan & tanggung jawabnya.

  • Hubungan silaturahmi dgn siapapun menjadi terganggu & kadang menimbulkan sekulerisme ygnn selalu bertentangan satu sama lainnya.

  • tidak akan punya sikap lembah manah, kesabaran, apalagi kesadaran tinggi, karena memang suka menganggap dirinya paling benar, & sudah pasti sering merugikan & menyakiti orang lainnya, terutama ygnn hanya manis di bibir & sikapnya saja, tanpa dilandasi niat ygnn tulus penuh kesungguhan.

  • Rasa konsekuensi & tanggung jawab setelah dewasa tdk ada & hanya akan tumbuh jika dikerasi, ditekan, disuruh & terus-menerus diberitahu, meskipun itu saja tdk menjamin kesadarannya bisa tumbuh secara natural.

Janganlah seolah olah seperti orang tua tapi konsekuensi & tanggung jawab sebenarnya bersebrangan tanpa disadari.

Ciri orang ygnn suka menghindar dari konsekuensi & tanggung jawab pilihannya :

  • 1. Suka memanipulasi keadaan dengan beragam cara, baik halus (yang berpendidikan) maupun kasar (yang tdk berpendidikan). Membuat keadaan seolah-olah dirinya paling benar, padahal sebaliknya. & cenderung kegiatannya ini merugikan orang lain ygn bahkan tdk ada sangkut pautnya dengan kebutuhannya itu.

  • 2. Banyak bicara, & banyak bicaranya itu cenderung meracuni pikiran orang lain, baik dengan cara halus (yang berpendidikan) & kasar (yang tdk berpendidikan). Membuat seolah-olah dirinya ygn terbaik, padahal sebaliknya. Konsekuensi & tanggung jawabnya sendiri dihindari, supaya seolah-olah orang lain ygn bersalah terhadapnya, padahal tindakannya ini sangat menyakiti hati orang lain, & membuat orang lain ygn tidak ada sangkut pautnya itu menjadi terpojok & serba salah padahal tidak demikian seharusnya.

  • 3. Suka mencari alasan & alibi, supaya seolah-olah dirinya tidak bersalah. Manis di bibir memutar kata malah menuduh orang lain segala penyebabnya. Siapa terlena pastilah terpana : bujuknya, rayunya, suaranya ygn menyimpan simpati & harapan. Sikap yang seolah-olah manis namun memendam niat yang tidak baik & memanfaat orang lain untuk membelanya padahal dirinya bersalah.

  • 4. Banyak tingkah & polahnya, yang disatu sisi menimbulkan orang lain memujinya karena tingkah lakunya dianggap benar, namun disisi lain menyakiti & merugikan orang lain.

  • 5. tidak memahami jika hidup itu terlalu dinamis untuk dijelaskan & dipahami, sehingga berbuat semaunya sendiri tanpa memandang kedepan dampak & resikonya buat dirinya sendiri saat melalaikan konsekuensi & tanggung jawab pilihannya.

  • 6. Memiliki pengetahuan agama cukup matang hasil dari pendidikan formalnya, namun tidak memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, & jauh dari pengetahuan yang dimensinya lebih tinggi. Sehingga hanya paham dengan hal-hal sifatnya fisik saja, tanpa mempertimbangkan beban pikiran orang lain & hati orang lain yang telah disakitinya, & selalu merasa paling benar & tidak mau disalahkan.

Sementara itu penyampaiannya mengenai konsekuensi & tanggung jawab setelah bertambah dewasa apapun pilihan & kebutuhannya sekarang jalani dengan penuh kesungguhan tanpa menyalahkan apalagi memojokan orang lain yang bahkan sudah bukan tanggung jawabnya. Semoga uraian ini bermanfaat baik untuk yang sekarang sedang menjalani sekolah, mulai masuk kuliah, apalagi yang sudah bekerja & manikah karena sunggung itu konsekuensi & tanggung jawab besar tanpa banyak alasan. jika menjalankan konsekuensi & tanggung jawab dengan penuh kesungguhan maka tidak akan ada resiko tidak baik yang ditimbilkan malah justru hanya keselarasan dari budi pekerti yang baik yang timbul. Semoga yang sedang membaca ini tidak termasuk ciri orang yang tidak memiliki konsekuensi & tanggung jawabnya, & jawablah hanya dengan nurani. Sebelum & sesudahnya, Terima kasih atas kunjungan & kepercayaannya. Selamat .