Pemahaman ala tua becik tua dan cara meluruskannya.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Sekarang ada 100 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Ala Tua Becik Tua.

Pitutur wong jowo : Ala tua becik tua & cara meluruskannya.

Ala tua becik tua dan cara meluruskannya -

Sebelum membahas pitutur becik wong jowo perihal ala tua becik tua, maka ada beberapa pengetahuan yg bisa dijadikan pondasi pemahaman hal yg sebenarnya lebih kompleks dari yg diperkirakan, supaya tidak ambigu. Karena pitutur piwulang wong jowo kadang sedikit kata tapi maknanya dalam & sangat luas, bagi mereka yg benar-benar memikirkannya.

Definisi & pengertian orang tua yg sebenarnya adalah orang yg mampu menempatkan diri, baik pikiran, perasaan, tutur kata, prilakunya, identik dg pinisepuh yg dihidup pada zaman dimana moral, akhlak, akidah belum terkontaminasi oleh perkembangan zaman modern. Siapapun orangnya berdasarkan umur : entah masih muda, sudah tua, maupun dewasa, masih kecil, sudah besar, kalau sudah sanggup menempatkan dirinya dalam posisi seperti itu layak disebut orang tua.

Definisi & pengertian pinisepuh adalah orang yg dahulu hidup pada zaman dimana moral masih murni belum terkontaminasi abad modern. Akhlak, akidah, moral, tutur kata, prilaku, benar-benar hanya berdasarkan ajaran syariat & hakikat agama yg sangat kuat.

Apa sebenarnya maksud pitutur wong jawa tentang ala tua becik tua? kurang lebih maksudnya : anak mau baik / buruk akhlak maupun prilakunya, sebenarnya kalau ditarik satu kesimpulan tunggal ujung-ujungnya karena wong tua pula.

Berdasarkan paradigma ala tua becik tua maka ada beberapa kronologi & analogi yg sanggup menggambarkan :

  • Realita yg benar : Anak jaman sekarang kadang kurang punya sopan santun, subo sito / uanggah ungguh sama wong tua.

Realita sebenar-benarnya : tidak semua anak seperti itu, kadang orang tua kurang menyadari pada kondisi-kondisi tertentu sering bertutur kata ygn menyinggung anaknya, tapi anaknya diam & tidak mau menasehati orang tuanya karena terbentur tata krama kepada wong tua.

  • Kenyataan ygn benar : Semua orang tua ingin anaknya sekolah ygn pintar, sukses, berhasil, kaya raya, & punya jabatan / status sosial ygn tinggi.

Kenyataan ygn sebenar-benarnya : Orang tua kadang tidak menyadari akan kemampuan anaknya, tidak menyadari kalau jalur hidup kesuksesan orang tidak hanya diukur dari sisi materi saja, kurang menyadari bila keberhasilan orang tidak mesti menjadi pegawai / pejabat tinggi. wong tua ygn terus menerus memiliki kecenderungan tsb masuk ciri orang tua materialistis & akhirnya membentuk akhlak untuk mengejar materi dgn berbagai cara terhadap pola pikir anaknya tentang uang sebagai kiblat ukuran keberhasilan.

  • Hal ygn realistis : Semua orang tua akan sangat senang & bangga, bila anaknya sukses, berhasil & berkecukupan materi.

Hal ygn sebenar-benarnya : Orang tua ygn terlalu membanggakan anaknya ygn berhasil, apalagi memiliki ekspektasi terlalu berlebihan karena anaknya sudah berkecukupan materi finansial, akan berdampak tdk baik dalam jangka panjang. Karena anak tersebut kelak bisa memperbudak orang tuanya melalui materinya, istilah wong jawa : Ngethiplakna wong tua karo cara alus, tdk dirasa tapi nyata. Orang tua kalau sudah seperti ini akan sulit keluar dari lingkaran anaknya tanpa disadarinya telah merusak akidah & membelokan akhlak secara pelan-pelan menjadi materialistis hingga akhirnya tdk sanggup menempatkan rasa adil serta tanggung jawab, terutama pada anaknya ygn telah berkeluarga.

Solusi supaya paham ala tua becik tua diharapkan tdk hadir dalam lingkungan keluarga :

  • Orang tua sebaiknya mengedepankan akhlak & akidah menurut ajaran agama sebagai kiblat kebenaran. Sehingga tdk berekespektasi terlalu tinggi bila anaknya berkecukupan secara finansial. Misalnya : meskipun anaknya sering kasih uang banyak pada orang tuanya, kalau memang anaknya salah, harus tetap disiplin & obyektif meluruskan anaknya, sehingga tdk salah menempatkan rasa rikuh pikewuh.

  • Orang tua memang harus mengajarkan anaknya tentang uang & materi karena menopang hidup, tapi setelah akidah & akhlaknya lurus terbentuk sesuai ajaran agama. Bukan memberikan doktrin halus terus-menerus hanya mengejar pekerjaan, karier, jabatan & kekayaan finansial semata. Apalagi menjadikan materi duniawi sebagai kiblat.

  • Untuk yng menjadi anak, bila suatu saat mempunyai argument, masukan, kalau memang berdasarkan akidah agama yng benar, maka jangan ragu menasehati orang tua, yg penting sopan santun & unggah-ungguh ke orang tua diusahakan selalu dijaga. Supaya kedepan tdk terjadi paham salah bukan salah paham lagi.

  • Bagi anak yng memiliki kelebihan dalam materi finansial yng berkecukupan, maka jangan terlalu sering menyodorkan hal-hal yng bersifat materi / uang, karena meskipun orang tua bangga dng anak yng berhasil secara finansial, kalau terus menerus disodori hal-hal seperti tsb, sebenarnya hanya akan menjerumuskan pelan-pelan orang tua berpaham materialistis & itu sanggup menggeser nilai akidah, sebab uang menjadi kiblat.

  • Untuk anak yng memiliki kelebihan ilmu pengetahuan akidah & agama, tapi mungkin belum berkecukupan secara finansial, maka harus tetap berusaha meluruskan akidah orang tua kalau memang diperlukan & seperlunya. Sebab jaman sekarang memang akidah itu sangat krusial, akhlak yng baik maupun sebaliknya bisa samar-samar jika tdk dilandasai dg ilmu akidah & agama yng kongkrit.

Siapapun kelak akan menjadi orang tua, jangan sampai ala tua becik tua menyelimuti lingkungan keluarga anda, mengapa?

  • Efeknya jangka panjang, sebab seseorang akan sulit membedakan antara : hak, kewajiban, tanggung jawab, kebutuhan & tujuan hidup yng sebenar-benarnya.

  • Situasi yng rumit & kompleks jika tidak segera diluruskan maka akan membuat seseorang : merasa sudah benar tapi belum sebenar-benarnya benar, merasa sudah sangat baik tapi belum sebenar-benarnya sejati, merasa bersukur dgn banyak kebaikan dunia tapi belum paham benar tujuan hidup yang hakiki apalagi hingga berfaham materialis sebagai kiblat.

Semoga referensi singkat & sederhana bisa menjadi inspirasi positif, aplikatif serta bermanfaat dalam jangka panjang. Terimakasih atas kunjungan & kepercayaannya, selamat beraktifitas.