Tanggung jawab orang tua pada anak perempuan yang sudah menikah agar menjadi ibu rumah tangga yang mulia.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Bukan suka membakar rasa bangga orang tua. Hingga orang tuanya menjadi materialistis tanpa terasa hingga akhirnya membelokan akhlak & akidah kewajiban anak perempuan terhadap suami & keluarga yang tengah dibangunnya. Sekarang ada 102 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Tanggung jawab orang tua pada anak perempuan.

Tanggung jawab orang tua pada anak perempuan

JIKA ANAK PEREMPUAN SUDAH MENIKAH POSISI TANGGUNG JAWAB TIDAK SEPERTI SAAT MASIH GADIS, SUDAH ADA SUAMINYA :

Landasan tanggung jawab yg pertama orang tua terhadap anak perempuan yang sudah menikah :

  • 1. Memberikan pemahaman bahwa anak perempuan yang sudah menikah wajib mengikuti suaminya, kemanapun suaminya bekerja & tinggal.

  • 2. Memberikan dasar bahwa anak perempuan yang sudah menikah harus menyelesaikan masalah, kebutuhan, konsekuensi sendiri / berdua bersama suami, bukan terus melibatkan orang tua terutama ibu setiap hari disemua aktivitas kegiatan keluarganya.

2 tanggung jawab diatas bila dilanggar anak perempuan yang sudah menikah, baik secara langsung, halus, lembut, seolah-olah sudah baik sekalipun maka nantinya orang tua akan pondeh / capek sebab harus terlibat dg urusan anak perempuannya, bahkan paham hidup & kesehatannya pun akan terganggu & akhirnya akan mengganggu semuanya. Apa dasar aturan itu? mau lihat di kitab agama apapun, dari pitutur pinisepuh manapun, maka tanggung jawab anak perempuan yang sudah menikah seperti itu dasarnya.

ORANG TUA HARUS TELITI TERHADAP ANAK PEREMPUAN YANG SUDAH MENIKAH AGAR JANGAN SAMPAI MERUSAK KEPEMIMPINAN SUAMINYA MESKIPUN SECARA HALUS TANPA TERASA :

Tanggung jawab orang tua yg kedua :

  • 1. Menyadarkan anak perempuan yang sudah menikah supaya tak merusak kepemimpinan suaminya.

Bagaimana analogi ini dipahami? begini kronologinya : Jaman sekarang, orang tua materialis semakin banyak, baik disadari maupun tak disadari, sifat materialistis ini tercermin ketika berlebihan memberikan ekspektasi tinggi terhadap anak perempuan yang dianggapnya memiliki karir pekerjaan & gaji besar dikantornya. Kesukaan pada anak perempuannya ini bukan sebab dia menjalankan akhlak & akidah sebenarnya. Selalu membela anak perempuannya meskipun sudah salah parah, akibat sering disuap dalam tanda kutip sering dikasih materi / uang yng sebenarnya wajibnya anak pada orang tua, tapi dibelokan menjadi rasa bangga orang tua yng berlebihan, inilah cikal bakal anak perempuan yang akan merusak kepemimpinan suaminya, mulai dari perintah suami yng ringan sampai konsekuensi tanggung jawab paling sakral.

  • 2. Memberikan pemahaman pada anak perempuan yang sudah menikah bila mampu memberikan materi, uang, / apapun pada orang tua itu sudah kewajiban & harus ikhlas, bukan untuk membakar rasa bangga orang tua kemudian anak perempuannya memiliki pamrih terselubung.

Anak perempuan jaman sekarang terutama ygn kebetulan memiliki karir pekerjaan bagus dg gaji besar, pasti akan sering memberikan uang, materi, pada orang tua terutama ibu. Namun tdk jarang diantara mereka memiliki niat pamrih terselubung, dng tujuan untuk membakar rasa bangga orang tua, ketika orang tua sudah terbakar rasa bangganya, menjadi mudah disuruh-suruh secara halus tanpa terasa anak perempuan itu menjadi tdk taat pada suaminya karena selalu dibela meskipun salah, & menyamarkan tugas & kewajibannya setelah menikah untuk juga konsekuen mengurus rumah tangga ketika sudah dirumah.

Anak perempuan yang suka membakar rasa bangga orang tua akan karirnya, membakar rasa khawatirnya & mencari iba, sebenarnya hanya menyamarkan kewajibannya pada suami & keluarganya sendiri, meskipun dilakukan secara halus lembut.

Tanggung jawab orang tua ygn ketiga :

  • 1. Memberikan pemahaman pada anak perempuan bahwa apabila sudah menikah, menjadi ibu rumah tangga ygn mulia adalah ketika mampu menanggalkan kepentingannya seperti saat masih gadis & selalu taat pada perintah seuaminya sesuai akhlak akidah & adab berumah tangga.

Saat anak perempuan bekerja di kantor, sejatinya tidak ada orang tua terutama ibu ygn tau betul apa ygn dilakukan anaknya ketika dikantor, orang tua hanya tau apabila diberitau, itupun kalau informasinya valid & terpertanggung jawabakan. Sekarang banyak ibu rumah tangga gaul, ygn mana kalau sedang pusing anaknya rewel dirumah maka dng gampangnya ditinggal pergi belanja shoping dgn teman-teman kantornya, & bahkan menggunakan dalih kesibukan kerja dgn lembur tinggi supaya diijinkan keluar rumah bahkan dihari lubur. Suka membelokan perintah suami, membantah secara halus kehendak suami, lantaran merasa punya karir & gaji besar. Anak perempuan memang memiliki kelebihan finansial, tanggung jawab kebutuhan keluarga secara materi tercapai, tapi akhlak & akidahnya sangat jauh dari nilai ibu rumah tangga ygn mulia.

  • 2. Menyadarkan pada anak perempuan tersebut jika sudah menikah, agama itu bukan sekedar untuk melapisi kebaikan semata tapi dipraktekan disetiap sendi kehidupannya sehari-hari menurut akhlak & akidah yang sebenarnya.

Orang tua yang cermat, teliti, akan sangat tau niat seperti apa yang terselubung dibalik sikap & pemberian yang seolah-olah baik dari anak perempuannya. Sebaliknya orang tua yang berlebihan mencintai materi duniawi akan sangat mudah dikelabui anak perempuan yang suka memberi uang / apapun, hingga tanpa terasa anak perempuan itu sudah keluar secara halus dari apa yang sebenarnya sudah menjadi konsekuensi & tanggung jawabnya jika dia sudah menikah terutama pada suami & keluarganya sendiri.

Ibu rumah tangga profesi yang mulia bagi perempuan jika : mematuhi suami meski bersebrangan kehendak, menggikuti kamanapun suami tinggal tanpa beban, sanggup menyelesaikan masalah keluarganya sendiri tanpa terus orang tua terlibat didalamnya.

Sementara itu penyampaiannya, semoga bermanfaat positif & aplikatif kedepannya, tersadari dengan penuh kesadaran, karena sekarang materi duniawi sudah sangat luar biasa membelokan secara halus akan akhlak & akidah sebenarnya yang seharusnya dijalankan menurut porsi & tanggung jawabnya masing-masing.