Kewajiban utama anak perempuan setelah menikah harus menjunjung tinggi kepemimpinan suami : patuh padanya & ikut suami kemanapun ia tinggal.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Sekarang ada 100 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Kewajiban utama anak perempuan setelah menikah.

Kewajiban utama wanita sesudah menikah

ANAK PEREMPUAN WAJIB MENJUNJUNG TINGGI KEPEMIMPINAN SUAMI SETELAH MENIKAH :

Kewajiban setelah menikah merupakan konsekuensi yang harus dijalankan sesuai akad perjanjian ijab qabul saat pernikahan. Ijab qabul berisi kewajiban yang tidak main-main, harus dijalankan dengan niat & kesungguhan secara konsekuen & konsisten. Pada jaman modern seperti sekarang, banyak kewajiban perempuan yang tidak dijalankan & parahnya sudah tidak dirasa lagi akibat materi sudah menjadi kiblat. Istri yang merusak kepemimpinan suami semakin banyak meskipun dilakukan secara halus & lembut.

KEWAJIBAN SUAMI MEMIMPIN TERHADAP ANAK PEREMPUAN SETELAH MENIKAH :

Kewajiban utama perempuan setelah menikah berdasarkan kitab suci maupun piwulang pinisepuh manapun adalah patuh pada perintah suami juga bersedia ikut suami kemanapun ia tinggal, ketika berselisih kecil maupun besar dengan suami tidak boleh wadul / menceritakan / apalagi mendramatisir cerita kepada orang tua. Dua kewajiban utama tersebut paling inti, paling sakral bagi anak perempuan setelah menikah, juga paling banyak dilanggar tanpa dirasa lagi.

Contoh nyata krnologi cikal bakal kewajiban utama yang sering dilanggar anak perempuan setelah menikah secara halus tanpa dirasa :

  • Ada anak perempuan yang suka memberikan uang, hadiah, kesenangan pada ibunya. Parahnya semakin ibunya diberikan kesenangan lahir oleh anak perempuannya, ibunya tidak menilai itu sebagai kewajiban wajar seorang anak yang sudah dimampukan kepada orang tuanya. Tapi menempatkan itu sebagai rasa bangga berlebihan, sehingga ibunya menjadi materialistis tanpa dirasa suka membandingkan dengan saudara lainnya.

  • Ibunya yang sudah kadung dibuai kesenangan & rasa bangga itu menjadi gelap mata, semakin lengket dengan anak perempuannya akibat kesenangan harta, selalu membela anak perempuan tersebut akibat rasa rikuh pekewuh yang tidak pada ranahnya. Entah anak perempuan itu salah maupun benar selalu dibela. Padahal ibunya tidak menyadari kalau anak perempuan setelah menikah wajib mengikuti perintah suami. Secara tidak langsung ibunya ini menjadi pendukung halus ketika anak perempuannya sedang menghindar dari kewajiban utama diatas sekaligus benih tumbuhnya istri yang merusak kepemimpinan suami.

  • Anak perempuan menjadi lebih sering curhat pada ibunya dengan berbagai dramatisasi yang dibuatnya hingga akhirnya membakar rasa iba maupun khawatir berlebihan. Suami tidak lagi menjadi tempat curhat istrinya (anak perempuan tadi). Sehingga ketika ada selisih kecil maupun besar dengan suaminya, tidak lagi diselesaikan sendiri, tapi selalu mengadu pada ibunya, suami sudah tidak lagi memiliki posisi penuh menjadi kepala rumah tangga yang berhak mengatur istrinya. Akhirnya kepemimpinan suami menjadi rusak tanpa terasa, nilai akhlak & akidah istri kepada suaminya menjadi hilang tanpa dirasa.

  • Anak perempuan itu menjadi selalu menentang apapun perintah suami kepadanya, akibat selalu dibela & ditopang ibunya. Bahkan perintah suami yang sudah sesuai akhlak & akidah istri pun dilanggar, karena selalu dibela & dicampuri ibunya.

Efek jika anak perempuan sudah melanggar 2 kewajiban utama setelah menikah :

  • Istri menjadi tidak patuh terhadap perintah suami, meskipun dilakukan dengan desain drama yang sangat halus. Maksudnya : istri seolah-olah patuh padahal sebenarnya sering melanggar perintah suami namun dengan kamuflase yang halus.

  • Istri tidak mau ikut suami kemanapun suaminya tinggal, & inipun dilakukan secara halus. Jadi : istri seolah-olah terkesan sangat ingin ikut kemanapun suaminya tinggal, padahal sebenarnya prilakunya lebih sering menolak secara halus dengan membuat berbagai drama, cerita karangan & kamuflase.

  • Istri tidak mau melayani kebutuhan suami dalam banyak aspek, inipun di dramatisir secara halus, dengan alasan iba : seolah-olah anak perempuan itu sangat sayang pada ibunya, tapi itu tidak lebih kamuflase agar bisa menghindari kewajiban istri pada suaminya.

  • Ibunya yang juga sudah punya suami juga meninggalkan kewajibannya, akibat lebih lengket dengan anak perempuannya yang sudah menikah, waktu ibunya dikuras habis oleh anak perempuan tersebut. Hubungan ibunya dengan saudara anak perempuan tersebut juga menjadi terganggu semua secara lahir batin.

SUAMI HARUS MELURUSKAN DARI SEKARANG KEWAJIBAN UTAMA ISTRI SESUAI AKHLAK & AKIDAH YANG TELAH ADA :

Bagi para suami, jika sudah dengan cermat mengetahui & memahami kronologi diatas, itu adalah cikal bakal istri yang kelak mengganggu kepemimpinan suami. Maka dari itu, suami harus berani & tegas untuk menasehati sekaligus membuat istrinya patuh, tidak perlu ragu lagi dengan drama apapun yang dibuat oleh istri, karena hak suami kepada istri sudah ada dasar yang Hakiki baik dalam kitab suci agama manapun & dari petuah pinisepuh manapun. Istri model seperti itu jika dibiarkan akan merusak kepemimpinan suami secara halus bertahap.

Ada sebuah pakem "IBU RUMAH TANGGA ADALAH PEKERJAAN YANG MULIA", sekarang ibu rumah tangga yang mulia seperti apa bagi anak perempuan sebenarnya ?

  • 1. Istri yang selalu mematuhi perintah suaminya, menomorsatukan suaminya & keluarga yang dibangunnya, sesuai akhlak & akidah ajaran agama.

  • 2. Istri yang siap sedia mengikuti suami kamanapun suaminya tinggal, entah dalam kondisi susah maupun senang.

ANAK PEREMPUAN ITU IBU RUMAH TANGGA YANG MULIA JIKA SYARAT KEWAJIBANNYA TERPENUHI LAHIR BATIN :

Anak perempuan yang memiliki niat & kesungguhan untuk menjalankan 2 kewajiban utama paling inti & sakral tersebut setelah menikah, & mampu menanggalkan ego pribadinya, baru bisa disebut sebagai ibu rumah tangga yang mulia. Jaman sekarang yang paling banyak adalah "ibu rumah tangga yang seolah-olah mulia" padahal prilakunya bersebrangan, namun sukar dideteksi suami karena istri bisa membungkus halus prilakunya yang sebenarnya menentang kepemimpinan suami. Anak perempuan setelah menikah jika menjadi istri model seperti ini tingkat kesadarannya sangat rendah, meskipun mungkin sementara ini notabene ia berpendidikan tinggi & berpenghasilan lebih.

SUAMI HARUS TEGAS TERHADAP ISTRI MESKIPUN DIA ANAK PEREMPUAN IBU MERTUANYA YANG TERHORMAT.

Kewajiban utama anak perempuan setelah menikah semuanya sudah jelas diatur dalam kitab suci agama manapun, maupun mengacu pada pitutur piwulang pinisepuh siapapun. Bagi anak perempuan setelah menikah sebaiknya sadari dari sekarang, karena ada hidup setelah hidup.