Hanya berangkat kerja pulang terus tidur dan cara meluruskannya.

Info cara terbaru untuk solusi terlengkap terbaik Sekarang ada 100 artikel masuk dalam Kategori Edukasi Pengembangan Diri. Semoga bermanfaat positif lebih optimal aplikatif. Halaman bisa dilihat memakai PC-Desktop maupun Smartphone Android / Mobile Version. Silahkan selengkapnya simak artikel tentang Hanya berangkat kerja pulang terus tidur.

Hanya berangkat kerja pulang tidur pulas.

"Anak seperti itu memang ada dijaman sekarang akibat materi sudah menjadi kiblat"

Hanya berangkat kerja pulang tidur -

Realitanya memang : jaman sekarang jamannya berkarier, kerja sekeras mungkin, kumpulkan uang sebanyak mungkin, pulang kerja tinggal tidur. karena uang menopang hidup. Namun yg keliru adalah uang secara halus & pelan-pelan merubah akhlak & akidah sampai menciptakan doktrin baru hingga akhirnya menggeser nilai-nilai akhlak ke arah materi sebagai kiblatnya.

Siapakah anak yg bisa berangkat kerja, pulang terus tidur?

  • Tentu anak yg punya karier, gaji / penghasilan cukup besar, status sosial yg cukup & mempunya orang tua yg juga ber-ekspektasi tinggi terhadap anak-anaknya hanya karena ukuran materi, bukan kualitas ilmu & akidahnya.

  • Anak yg mampu memanipulasi, mendramatisir, membelokan orang tuanya secara halus, menggunakan kelebihan materinya, supaya orang tua bisa membantunya setiap hari, mulai pagi, siang, sore, malam, hingga tidur lagi. & orang tuanya tak menyadari sedang dijerumuskan secara halus kedalam lingkungannya, karena : uang, pangkat, jabatan hanya dijadikan ukuran kebaikan, bukan aklhak & akidah dimensi tinggi.

Contoh analogi sekaligus realita yg nyata :

  • Seorang anak dg karier & pekerjaannya mampu membeli rumah. Orang tuanya pasti sangat-sangat bangga & selalu membanggakannya.

  • Namun sang anak membeli rumah tak berniat sama sekali untuk ditempati, hanya sebagai sarana unjuk gigi secara halus, kalau dirinya mampu membeli rumah.

  • Target utamanya adalah membuat orang tua bangga, lalu mengendalikan & memperbudak secara halus, hingga orang tuanya tak merasa sedang dibelokan akidahnya secara halus, akhirnya menjadi orang tua yg materialistis tanpa disadarinya.

  • Anak yg sudah menikah tapi tak menempatkan sama sekali tugas & tanggung jawabnya sepenuh hati, bahkan pada hal yg kecil-kecil.

Contoh sekaligus kenyataan :

  • Mengantar anak sekolah, tak perlu karena sudah bisa bayar pembantu (PRT), bahkan orang tuanya sendiri bisa dijadikan pembantu secara halus, sebab saking bangganya terhadap anaknya yg berkecukupan materi.

  • Memasak dirumah untuk suami, tak perlu karena beli paket makanan yg enak-enak juga bisa, tak perlu repot-repot.

  • Kewajiban menyusui anaknya yg masih kecil/bayi, tak perlu, sebab tinggal beli freezer, ambil ASI (Air Susu Ibu) masukan dalam botol, masukan ke lemari pendingin, kasihkan pembantu (PRT) utk memberikan ASI dalam botol tsb. Inilah akhlak dijaman era modern ygn terlah banyak menghasilkan generasi muda dg kebaikan samar-samar, karena anak tersebut hanya hasil hubungan biologis orang tua ygn syah menikah, tapi tdk punya hubungan empati sejak anaknya masih kecil. anak seperti ini jika kelak telah dewasa susah diatur & banyak permintaannya, maka ygn salah sebenarnya adalah orang tuanya itu sendiri. Ala tua becik tua itulah pitutur wong jawa ygn bisa menggambarkan hal tsb.

  • Bekerja dg keras, berangkat pagi pulang petang, & melemburkan diri dikantor. dg niat supaya pulang tinggal tidur. tdk perlu tau kapan anak kecilnya nangis, merengek, minta ini & lainnya, ygn penting pulang dapat uang ygn banyak.

Mengapa ada anak sampai pulang kerja terus tidur sesuai kehendak hatinya?

  • 1. Orang tuanya sendiri tdk tegas memberikan jalur untuk menempatkan kewajiban & tanggung jawab sang anak ygn sudah menikah & juga punya pekerjaan dgn penghasilan cukup besar.

  • 2. Orang tuanya memiliki paham materialis, sehingga ketika anaknya dimampukan secara materi, orang tuanya sangat bangga kemudian dimanfaatkan secara halus oleh anaknya, agar nilai akidahnya berbelok secara halus, bergeser menjadikan materi sebagai kiblat.

  • 3. Orang tuanya kurang bisa membedakan, kapan harus membantu anaknya, & kapan anaknya harus menjalankan kewajibannya sendiri apalagi jika sudah menikah. Pagi, siang, sore, malam, baik dari urusan kecil sampai besar, orang tuanya ygn melayani & membantu. Mengapa orang tuanya mau? sebab orang tuanya berpaham materialis, sehingga cukup kasih uang banyak, makan enak, beritahu jenjang karir bagus, maka orang tua bisa disuruh-suruh anaknya secara halus. Disinilah akidah & akhlak bergeser pelan-pelan tak terasa sudah menjadi materi sebagai kiblat. orang tua semakin sulit & ambigu dalam menempatkan rasa adil akibat ekspektasi berlebihan terhadap materi.

  • 4. Orang tuanya kurang bisa menempatkan rasa adil kepada anak-anaknya. Sehingga dimanfaatkan secara halus oleh anaknya ygn notabene berkecukupan secara materi untuk diperbantukan.

  • 5. anak ygn merasa pekerjaan & penghasilan ygn didapatnya karena memang kompetensi serta skillnya diatas rata-rata. Pekerjaan bagus ukurannya memang kompetensi. Tapi jika ditarik satu kesimpulan tunggal, sebenarnya Sang Pemurah Hatilah ygn memberikan kesempatan 1 diabanding sekian ribu pada seseorang ygn sedang diijinkan-NYA. Kesempatan karier bagus, materi berkecukupan, untuk menguji apakah akhlaknya akan berbelok / tidak, baik membelok secara halus tdk terasa maupun secara direct.

  • 6. anak yng telah menikah kurang memegang kuat akad nikah yng tdk sekedar untuk diucap. Tapi benar-benar harus paham batas hak dgn kewajibannya selama dirumah & diluar rumah. Contohnya : dikantor posisi kerjanya bagus, kalau sudah dirumah harus paham posisi sesuai status kekeluargaannya. Sehingga tdk mendistorsi penempatan kewajiban & tanggung jawabnya menjadi orang tua.

Mengapa analogi pengetahuan : hanya brangkat kerja pulang tidur, perlu disampaikan?
  • Jaman era modern sekarang ini, akhlak & akidah secara pelan-pelan & halus sedang bergeser ke sifat-sitaf materialistis sebagai kiblat. Lembut & tdk terasa terus bergeser. Beragkat kerja, pulang, capek, tidur, yng penting tanggal muda pendapatan meningkat materi berkecukupan.

  • Pitutur & piwulang wong jowo : "menungso selaras karo alam". Kurang lebihnya pengertian berdasarkan abad modern : Manusia punya hubungan morfogenetik dgn alam semesta secara sistematis. Apa yng akan diberikan alam semesta, sesuai dgn isi hati & pikiran manusia yng berpijak diatas alam. Akhlak & akidah manusia yng baik, maka alam semesta akan memberikan kebaikan, pun demikian sebaliknya.

  • Jaman sekarang, kebanyakan orang sangat baik jika dilihat melalui kacamata sosial, mapan, bekerja, berkeluarga, berkecukupan, sopan, santun, ramah-tamah. Tapi jika diteliti lebih dalam, akhlak & akidahnya masih tidur dng pulas. Logika materinya berkeja untuk memenuhi derajat sosial, tapi kalau sudah pulang kerja, akhlak & akidahnya tidur dng pulas tanpa terasa. Hal demikian memang rumit jika dilihat dng kacamata awam, jauh lebih berbahaya dibandingkan dng jaman jahiliah dahulu kala, & hanya terdeteksi oleh mereka-mereka yng berpikir lebih dalam berdasarkan nurani yng murni tanpa kontaminasi akhlak era modern.

Mengapa analogi hanya berangkat kerja pulang tidur pulas ternyata efeknya rumit & memusingkan?
  • Karena memang lebih baik memberitahu yng sebenarnya kompleks & rumit, tapi jika siapapun mampu berjalan diatas akidah & akhlak yng digariskan dg sebenar-benar justru kelak akan mempermudah, Daripada menjejali hal yng terlihat enak & mudah-mudah tapi sebenarnya hanya akan mempersulit siapapun kedepan tanpa disadari & tak terasa.

Sementara itu yng bisa disampaikan, semoga bermanfaat positif & inspiratif, hingga bisa membawa perubahan yng nyata baiknya. Tetap bisa adaptasi & bisa mengikuti perkembangan jaman & teknologi pada era yng semakin canggih & modern, tapi tetap melandasakan akhlak & akidah menjadi kiblatnya bukan materi semata. Terima kasih atas kunjungan & kepercayaan anda, selamat bekerja & beraktifitas.